Di tengah riuhnya Jakarta, Galeri Emiria Soenassa di Taman Ismail Marzuki menyuguhkan sebuah ruang perenungan yang hangat dan mendalam. Pameran bertajuk 100 Tahun Rumah Batik Oey Soe Tjoen, yang berlangsung 26 Juli hingga 3 Agustus, bukan sekadar menampilkan kain indah, tetapi juga menghadirkan kisah tentang ketekunan, pencarian jati diri, dan dialog antar generasi melalui medium batik tulis.
Pameran ini digagas oleh generasi ketiga, Oey Kiem Lian atau dikenal juga sebagai Widianti Widjaja, bekerja sama dengan pengarah pameran Damiati Widowati. Mereka menghadirkan batik sebagai ruang bercerita—tentang keluarga, nilai, dan keberanian melestarikan sesuatu yang nyaris hilang.
Rumah, Warisan, dan Jejak yang Ditinggalkan
Begitu memasuki area pamer, pengunjung disambut suasana hangat bak rumah keluarga masa lalu. Di area pendopo, perabot antik, potret keluarga, dan anggrek putih menata ulang nuansa rumah tradisional keluarga Oey. Di sinilah segala kisah bermula—dari warisan turun-temurun hingga tangan sang pelestari.
Tak jauh dari pendopo, sejumlah manekin mengenakan kain-kain batik koleksi Oey Soe Tjoen dalam siluet kebaya dan busana tradisional. Kain-kain ini bukan hanya karya seni, tetapi juga saksi atas sejarah panjang sebuah keluarga yang setia menjaga pakem. Instalasi lain menampilkan alat-alat canting dengan label nama motif seperti Tutul, Cengisan, Tanaha, Sawat, Kepyur, dan lainnya—detail kecil yang menunjukkan kerumitan dan dedikasi dalam proses membatik.
Di lantai dua ruang pamer, tiga kain batik tulis menjadi pusat perhatian. Masing-masing menggambarkan sosok spiritual yang menjadi inspirasi hidup Widianti: Nyai Roro Kidul, Bunda Maria, dan Dewi Kwan Im. Ketiga figur ini bukan sekadar simbol kepercayaan, melainkan representasi dari pluralitas budaya dan keyakinan yang hidup berdampingan dalam masyarakat Indonesia.
Melalui goresan malam dan motif halus khas Oey Soe Tjoen, kain-kain ini menjadi ruang refleksi akan makna perempuan, spiritualitas, dan identitas yang kompleks—bahwa keyakinan, warisan, dan seni bisa hadir beriringan tanpa saling meniadakan.
Batik dan Pencarian Jati Diri
Bagi Widianti, batik adalah jalan sunyi menuju pengenalan diri. Ia sempat ragu untuk meneruskan usaha keluarga, hingga sebuah permintaan dari turis Jepang—untuk membuat batik gaya Hokokai—membangkitkan kesadarannya akan nilai warisan yang ia miliki. Dari situ, ia mulai menciptakan desain yang mencerminkan dirinya—baik sebagai seniman, perempuan, maupun pewaris tradisi.
Ia mengeksplorasi tema-tema baru seperti cerita rakyat, spiritualitas, dan ekspresi feminin, sambil tetap berpegang pada pakem-pakem keluarga. Karya-karyanya menjadi jembatan antara inovasi dan akar budaya.
Pameran ini juga menyoroti peran sentral perempuan dalam dunia batik. Dalam tradisi keluarga Oey Soe Tjoen, keputusan akhir atas kelayakan kain selalu berada di tangan perempuan. Ketelitian adalah prinsip yang dijunjung tinggi. Sebuah kain yang memiliki cacat sekecil apapun tidak akan dijual—bahkan bisa dimusnahkan—sebagai bentuk penghormatan pada mutu dan konsistensi.
Warna, Makna, dan Harapan
Setiap lembar batik yang ditampilkan membawa warna kuat dan sarat simbol. Dari motif Cuwiri yang dihidupkan kembali hingga karya Scarlet yang menandai langkah kreatif baru Widianti, semua menjadi bentuk komunikasi lintas waktu.
Pameran ini menjadi pengingat bahwa warisan bukanlah sesuatu yang disimpan dalam kotak kaca. Ia hidup, berubah, dan terus ditafsirkan ulang. Dalam tiap motif dan goresan malam, terselip harapan agar budaya tidak hanya dikenang, tapi juga terus dibaca ulang—dan tetap relevan bagi generasi masa kini.






































